0

Kelembagaan Desa Wisata

Posted by Fajar Nurmalasari on 06.13


Struktur Organisasi pada desa Wisata yang di nilai sudah baik dan tepat adalah sebagai berikut :
Ø  Ketua Pengelola
Ø  Wakil Ketua
Ø  Sekertaris  ( 2 orang )
Ø  Bendahara ( 2 orang )
Ø  Seksi-Seksi
Sie Kesenian dan Budaya
Sie Kebersihan
Sie Homestay
Sie Konsumsi
Sie Keamanan dan Ketertiban
Sie Pemanduan Wisata
Sie Humas dan Publikasi
Sie Kesehatan
Komponen yang harus terlibat dan dapat di ajak kerjasama :
1.       Masyarakat setempat
2.       Dinas Pariwisata dan Pemerintah
3.       Karang Taruna
4.       Pokdarwis
5.       Desa Wisata Sekitar
6.       Akademisi
7.       Tour and Travel

1.        Desa Wisata Yang kelembagaanya sudah baik dan yang belum baik

ü  Desa Wisata yang Belum baik dalam kelembagaanya

Desa Wisata Lopati.
Desa wisata Lopati merupakan salah satu desa wisata yang ada di Bantul. Desa Wisata ini sebenarnya memiliki banyak potensi yang dapat di tawarkan kepada wisatawan seperti paket wisata yang di dalamnya berisi banyak kegiatan antara lain kegiatan yang berbau kuliner seperti pembuatab Mie lethek yaitu makanan khas Desa Lopati, Pembuatan Bakpia, Pengolahan susu, dan juga terdapat kegiatan yang berbau kerajinan seperti pembuatan ronjot dari bambu dan kerajinan lain seperti meja kecil, gelang , tikar, dan pernak pernik lain dari bambu. Desa wisata ini berpotensi besar untuk menjadi desa yang maju namun saat melakukan observasi disana saya melihat bahwa desa ini masih terbengkalai dalam hal kepengurusan. Tidak banyak masyarakat yang terlibat secara aktif di dalamnya. Yang mengelola dan memikirkan strategi pengembangan hanya ketua atau kepala dukuhnya saja. Semua perencanaan terkait acara atau perkembangan hanya dipikirkan oleh satu dua orang saja. Karang Taruna nya cukup pasif dan warganya kurang sadar akan pariwisata. Jika akan mengadakan suatu event maka sangat sulit dalam hal pendanaan dan persiapanya karena SDM disana memang kurang produktif.
ü  Desa Wisata yang Sudah baik dalam kelembagaannya
Desa Wisata Kembangarum
                Desa wisata Kembangarum Desa Donokerto, Kecamatan  Turi, Kabupaten Sleman. Desa wisata Kembangarum merupakan desa wisata yang diresmikan pada pertengahan tahun 2005. Desa ini menawarkan edukasi dan alam sebagai sajian wisata bagi pengunjung. Program-program yang dirancang dan dibangun di desa wisata ini mengedepankan edukasi atau pendidikan bagi anak-anak khususnya. Hal ini ditunjukkan degan adanya sanggar lukis dan perpustakaan yang dibangun menarik untuk anak-anak. Kelembagaan di Desa Wisata Kembangarum sudah tertata dengan baik, pengelolaan desa wisata ini sudah melibatkan seluruh masyarakat lokal Desa Kembangarum. Pengelola bekerjasama dengan kumpulan sesepuh, bapak – bapak, ibu – ibu PKK, dan karangtaruna. Masyarakat desa sudah sadar akan adanya pariwisata yang dikembangkan di Desa Kembangarum dan turut serta mengelola pariwisata tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengelola dan masyarakat lokal sudah bersinergi membangun pariwisata disana.


0

Travel Writing : Desa Wisata Ngringinan

Posted by Fajar Nurmalasari on 05.15

Fajar Nurmalasari
16/396354/SV/10567

Travel Writing

Desa Wisata Ngringinan

            Desa Wisata Ngringinan terletak di daerah Palbapanng Bantul. Desa wisata ini merupakan salah satu desa wisata menarik yang harus di kunjungi wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta. Desa wisata Ngrinan memiliki banyak potensi yang bias di jadikan daya tarik bagi wisatawan. Di desa wisata Ngringinan ini terdaoat pula banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Masuk ke area desa ini anda parawisatan akan di ajak untuk menelusuri  jejak Bantul di masa penjajahan Belanda. Desa ini menawarkan beberapa paket wisata yang beberapa di antaranya berisi paket mengunjungi museum, mengunjungi pabrik pembuatan Madu wongso, tempe, emping dan gula jawa, Gereja Ganjuran, ziarah atau wisata religi, melihat kesenian masyarakat setempat dan lain lain.



Tempat pertama yang saya kunjungi saat saya berkunjung ke desa Wisata ini adalah Museum Bantul Masa Belanda. Di Dalam ruangan ini terdapat berbagai foto foto tentang bangunan dan benda benda bersejarah pada masa penjajahan Belanda. Di bawah foto juga terdapat penjelasan mengenai tahun dan juga nama namanya. Bangunan museum ini juga masih termasuk bangunan asli Belanda. Pada bagian belakang museum ini terdapat salah satu rumah produksi makanan khas dari Desa Ngringinan ini yaitu Madu Wongso. Madu Wongso ini merupakan makanan khas yang terbuat dari bahan dasar tape ketan dan gula jawa yang di bungkus dengan kertas warna warni. Proses pembuatan Madu wongso ini di lakukan oleh ibi ibu dari desa wisata Ngringinan ini. Wisatawan yang datang dapat langsung ikut serta dalam membuat madu wongso mulai dari pembuatan hingga proses pengemasan.


            Berpindah dari Museum Bantul Masa Belanda dan Madu Wongso ini saya melanjutkan perjalanan menuju ke Ganjuran untuk mengunjungi Gereja Ganjuran. Di dekat Gereja terdapat sebuah bangunan rumah sakit benama rumah sakit panti rapih yang memiliki konstruksi bangunan yang masih dengan unsur bangunan Belanda asli. Walaupun sudah ada perbaikan di beberapa titik. Rumah sakit ini merupakan cikal bakal dari Rumah sakit Panti Rapih yang ada di dekat Bunderan UGM. Sampai di Gereja Ganjuran ini saya masuk dan mulai melihat lihat keseluruhan area Gereja. Dalam Gereja ini terdapat beberapa bangunan antara lain yang pertama adalah Pastoran merupakan bangunan yang di gunakan untuk tempat tinggal Romo. Kemudian terdapat bangunan utamma gereja yang di gunakan untuk berdoa bersama. Di dalam gereja utama ini terdapat patung Yesus dan Bunda Maria yang mengenakan pakaian adat jawa yang melambangkan adat istiadat masyarakat setempat dan juga melambangkan toleransi. Selain itu bangunan ini juga di desain dengan bentuk menyerupai joglo. Terbuka untuk umum dan dibuka selama 24 jam.  Untuk instrumen music yang ada di dalamnya juga terdapat seperangkat gamelan jawa. Selanjutnya di dalam kawasan ini juga terdapat sebuah mata air yang dianggap suci dan bisa diminum langsung oleh wisatawan. Air ini di percaya sebagai air suci yang memiliki banyak manfaat seperti untuk penyembuhan atau dapat mengabulkan permintaan. Mata Air ini brnama Air Pertosari Di dekat sumur terdapat sebuah Candi yang mirip dengan corak hindu namun sebenarnya ini merupakan candi Katolik  yang sering pula di gunakan untuk memanjatkan doa.

Kawasan gereja ini cukup luas dan banyak di tumbuhi oleh pohon cemara. Kawasan ini diberinama Mandala hati kudus Tuhan Yesus.  Orang yang berwisata religi di sini tidak hanya orang katolik saja namun banyak lintas agama yang datang. Di kawasan Gereja ini terdapat banyak kegiatan keagamaan salah satuunya adalah misa yang di ikuti oleh ribuan orang dan juga 6 tokoh penting lintas agama masyarakat setempat. Di luar area gereja banyak pula took took yang menyediakan souvenir dan olej oleh lainya seperti madumongso yang menjadi produk unggulan di desa wisata Ngringinan.


0

Tugas Kesenian Indonesia

Posted by Fajar Nurmalasari on 21.50
Tugas Kesenian Indonesia
Nama    : Fajar Nurmalasari
Kelas     : Pariwisata A
Nim       : 16/396354/SV/10567

Dewi Sumbadra



Latar Belakang / Silsilah Keluarga :
Dewi Sumbadra dalam tradisi pewayangan Jawa merupakan salah satu tokoh penting dalam Wiracarita Mahabharata, kisah epik Hindu . Dewi Subadra atau Dewi Sumbadra (pedalangan Jawa), dikenal pula dengan nama Dewi Mrenges, Dewi Rara Ireng, Dewi Bratajaya dan Dewi Kendengpamali.  Dewi Sumbrada merupakan ketrunan atau putri Prabu Basudewa, raja negara Mandura dari permaisuri Dewi Rohini/Dewi Badrahini. Dewi Sumbadra mempunyai 4 orang saudara lain ibu, yaitu; Kakrasana dan Narayana dari Dewi Mahindra/Maerah (Ped.Jawa), Kangsa, dari Ibu Dewi Mahira/Maekah – (Kangsa sebenarnya putra Dewi Mahira dengan raksasa Gorawangsa yang menyaru/beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan bermain asmara dengan Dewi Mahira), Udawa, dari ibu Ken Sagupi, seorang swaraswati Keraton Mandura.
Dewi Sumbadra merupakan istri dari Raden Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu, raja negara Astina dengan Dewi Kunti, dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Angkawijaya/Abimanyu. Ia tinggal di taman Banoncinawi, Kadipaten Madukara wilayah negara Amarta. Dewi Sumbadra diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu. Dari rahim Sumbadra inilah lahir Abimanyu yang kelak kemudian akan menurunkan Prabu Parikesit.
Riwayat Rara Ireng terhitung aneh. Sewaktu masih kanak-kanak rupanya jelek. Kulitnya hitam, hingga ia dinamakan Rara Ireng gadis nan hitam. Rambutnya jarang dan kemerah-meraha. Tapi berangsur angsur rupa jeleknya itu berobah dan akhirnya menjadilah ia putri yang secantik-cantiknya. Tersebut di dalam cerita, bahwa Rara Ireng tak begitu cantik, tetapi kalau berkumpul dengan putri-putri yang tersohor cantiknya, Rara Ireng melebihi kecantikan mereka semua itu. Dia mati tertusuk pisau si Burisrawa, walau akhirnya dihidupkan kembali oleh Antareja, Anak kesayangannya harus mati muda di medan perang.Akhir riwayatnya di ceritakan, ia mati moksa bersama keluarga pandawa setelah Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari dinobatkan sebagai raja Astina menggantikan  Prabu Puntadewa

Ciri Khas :
Pakaian yang di kenakan
Rara Ireng bersanggul, bersunting waderan, berjamang dan berpontoh, tetapi setelah dewasa hanya berjamang dan tak bergelang serta berhiasan lain-lainnya.
Rara Ireng bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka tenang. Bersanggul keling dan sebagian rambut terurai. Berjamang dan bersunting waderan. Bergelang dan berpontoh. Sesudah menjadi Wara Sumbadra, putri ini tak mau lagi mengenakan pakaian serba keemasan dan tak mau pula menggunakan mutu manikam.
Sumbadra berwanda: 1. Lentreng, 2. Parem, dan 3. Rangkung. Wanda yang ketiga ini karangan Sri Sultan Agung.

Karakter / watak Tokoh :
Dalam cerita perwayangan Dewi Sumbadra di gambarkan sebagai tokoh mempunyai watak; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung. Untuk budi baik itu mungkin belum sepenuhnya ada pada saya namun yang mudah tersinggung, sabar, dan sopan insyaallah sesuai dengan karakter saya. Dewi Sembadra dikenal sebagai sosok ideal priyayi putri Jawi. Dengan pembawaan yang lembut, anggun, tenang, namun mampu bersikap tegas bila diperlukan. Yang sama dengan karakter saya selanjutnya adalah kesederhanaan rara ireng alias wara sembadra dalam menjalani hidupnya. ia juga terkenal dalam budaya pewayangan Jawa sebagai seorang putri anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya
Rara Ireng sangat sabar. Kalau marah pun ia menampakkan senyum yang manis. Sesudah bersuami, ia hidup rukun dan damai dengan suaminya, sehingga kehidupan mereka diibaratkan sebagai ikan mimi dan mintuna, yakni ikan laut jantan dan betina yang tak pernah berpisah.
Sumber :
caritawayang.blogspot.com
nuradiwibowo02.blogspot.co.id


Copyright © 2009 Tourism'16 All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.