0
Tugas Kesenian Indonesia
Posted by Fajar Nurmalasari
on
21.50
Tugas
Kesenian Indonesia
Nama
: Fajar Nurmalasari
Kelas
: Pariwisata A
Nim
: 16/396354/SV/10567
Dewi
Sumbadra
Latar
Belakang / Silsilah Keluarga :
Dewi
Sumbadra dalam tradisi pewayangan Jawa merupakan salah satu tokoh penting dalam
Wiracarita Mahabharata, kisah epik Hindu . Dewi
Subadra atau Dewi Sumbadra (pedalangan Jawa), dikenal pula dengan nama Dewi
Mrenges, Dewi Rara Ireng, Dewi Bratajaya dan Dewi Kendengpamali. Dewi
Sumbrada merupakan ketrunan atau putri Prabu Basudewa, raja negara Mandura dari
permaisuri Dewi Rohini/Dewi Badrahini. Dewi
Sumbadra mempunyai 4 orang saudara lain ibu, yaitu; Kakrasana dan Narayana dari
Dewi Mahindra/Maerah (Ped.Jawa), Kangsa, dari Ibu Dewi Mahira/Maekah – (Kangsa
sebenarnya putra Dewi Mahira dengan raksasa Gorawangsa yang menyaru/beralih
rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan bermain asmara dengan Dewi Mahira),
Udawa, dari ibu Ken Sagupi, seorang swaraswati Keraton Mandura.
Dewi
Sumbadra merupakan istri dari Raden Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu,
raja negara Astina dengan Dewi Kunti, dan dikaruniai seorang putra yang diberi
nama Angkawijaya/Abimanyu. Ia tinggal di taman Banoncinawi, Kadipaten Madukara
wilayah negara Amarta. Dewi Sumbadra diyakini sebagai titisan Bathari Sri
Widowati, istri Bathara Wisnu. Dari rahim Sumbadra inilah lahir Abimanyu yang
kelak kemudian akan menurunkan Prabu Parikesit.
Riwayat
Rara Ireng terhitung aneh. Sewaktu masih kanak-kanak rupanya jelek. Kulitnya
hitam, hingga ia dinamakan Rara Ireng gadis nan hitam. Rambutnya jarang dan
kemerah-meraha. Tapi berangsur angsur rupa jeleknya itu berobah dan akhirnya
menjadilah ia putri yang secantik-cantiknya. Tersebut di dalam cerita, bahwa
Rara Ireng tak begitu cantik, tetapi kalau berkumpul dengan putri-putri yang
tersohor cantiknya, Rara Ireng melebihi kecantikan mereka semua itu. Dia mati
tertusuk pisau si Burisrawa, walau akhirnya dihidupkan kembali oleh Antareja,
Anak kesayangannya harus mati muda di medan perang.Akhir
riwayatnya di ceritakan, ia mati moksa bersama keluarga pandawa setelah
Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari dinobatkan sebagai raja Astina
menggantikan Prabu Puntadewa
Ciri Khas :
Pakaian
yang di kenakan
Rara
Ireng bersanggul, bersunting waderan, berjamang dan berpontoh, tetapi setelah
dewasa hanya berjamang dan tak bergelang serta berhiasan lain-lainnya.
Rara
Ireng bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka tenang. Bersanggul keling dan
sebagian rambut terurai. Berjamang dan bersunting waderan. Bergelang dan
berpontoh. Sesudah menjadi Wara Sumbadra, putri ini tak mau lagi mengenakan
pakaian serba keemasan dan tak mau pula menggunakan mutu manikam.
Sumbadra
berwanda: 1. Lentreng, 2. Parem, dan 3. Rangkung. Wanda yang ketiga ini
karangan Sri Sultan Agung.
Karakter
/ watak Tokoh :
Dalam cerita perwayangan Dewi Sumbadra di gambarkan sebagai
tokoh mempunyai watak; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu
dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung. Untuk budi
baik itu mungkin belum sepenuhnya ada pada saya namun yang mudah tersinggung,
sabar, dan sopan insyaallah sesuai dengan karakter saya. Dewi Sembadra dikenal sebagai sosok
ideal priyayi putri Jawi. Dengan pembawaan yang lembut, anggun, tenang, namun
mampu bersikap tegas bila diperlukan. Yang sama dengan karakter saya
selanjutnya adalah kesederhanaan rara ireng alias wara sembadra dalam menjalani
hidupnya. ia juga terkenal dalam budaya pewayangan Jawa sebagai seorang putri
anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya
Rara
Ireng sangat sabar. Kalau marah pun ia menampakkan senyum yang manis. Sesudah
bersuami, ia hidup rukun dan damai dengan suaminya, sehingga kehidupan mereka
diibaratkan sebagai ikan mimi dan mintuna, yakni ikan laut jantan dan betina
yang tak pernah berpisah.
Sumber :
caritawayang.blogspot.com
nuradiwibowo02.blogspot.co.id

Posting Komentar