0
Kesejukan Istana Air Taman Sari Yogyakarta ( water Castle )
Posted by Fajar Nurmalasari
on
19.54
Halo teman teman blogger, beranjak dari wisata
Candi di Yogyakarta, sekarang saya akan
beranjak ke wisata sejarah lainya yang ada di Yogyakarta. Tak kalah dengan Jawa
Tengah, Kota Yogyakarta juga mempunyai banyak bangunan bersejarah yang sampai
saat ini masih di jaga dan telah
direnovasi menjadi Objek wisaata. Bangunan bersejarah itu bernama Istana Air
Taman Sari atau sering dikenal dengan sebutan “ Water Castle “ . Nama
objek wisata Taman Sari sendiri sudah cukup terkenal di daerah Yogyakarta
sebagai Situs Cagar Budaya. Melihat foto-fotonya dari album seorang teman,
membuat saya tertarik untuk mengunjunginya. Sehingga ketika saya memiliki
kesempatan untuk berwisata di Yogyakarta maka saya mengagendakan untuk
mengunjungi situs tersebut.
Taman Sari merupakan situs bekas taman atau kebun
istana yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I yaitu pada tahun
1758-1765/9. Kebun istana ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari
beberapa bagian bangunan. Dan yang masih tersisa sampai dengan saat ini ada dua
bagian yaitu Bagian pertama merupakan danau buatan yang disebut “segaran” serta
bangunan yang ada di tengahnya berupa pulo kenongo, pulo cemethi dan sumur
gumuling. Bagian kedua berupa Gedhong Gapura Agung, Gedhong Lopak-lopak, Umbul
pasiraman atau Umbul binangun, Gedhong Sekawan, Gedhong Gapura Panggung, dan
Gedhong Temanten.
Pada awalnya saya bersama teman saya berjalan jalan ke
daerah Malioboro dan Pasar Bringharjo. Setelah itu kami pergi menuju Kraton Yogyakarta namun ternyata
waktu itu Kraton Yogyakarta sudah memasuki jam tutup untuk kunjungan wisata,
jadi kami langsung memutuskan untuk pergi langsung ke Taman Sari. untuk menuu ke Tamansari kami memilih untuk menaiki beak . Kami pun diantarkan oleh tukang becak ke pasar
burung ngasem. Pada awalnya saya sempat heran kenapa saya diturunkan disini,
bukan di gerbang utama. Tukang becak tersebut menunjukkan bahwa Taman Sari ada
di belakang bangunan itu, sambil menunjuk bangunan tinggi yang sudah runtuh
yang tersisa hanya dinding yang sudah lapuk.
Kami pun berjalan memasuki sebuah gapura yang melengkung dengan dihiasi
sebuah lampu berornamen klasik di kedua sisinya. Sebelum memasuki gapura
tersebut disisi sebelah kanan saya merupakan pasar ngasem dan setelah memasuki
gapura di sisi kiri seperti tempat beristirahat dan tepat di hadapan gapura ada
sebuah panggung yang terbuat dari batu-batu alam persegi.
Kami pun menelusuri jalan menuju bangunan tinggi tersebut dan saya sempat
terheran-heran karena melewati rumah penduduk. Setelah berbelok ada sebuah
jalan menanjak yang menjadi gerbang masuk pengunjung ke bangunan tinggi
tersebut. gerbang tersebut berbentuk persegi dengan hiasan relief tanaman
setengah lingkaran diatas gerbang. Setelah memasuki gerbang tersebut ada 2 buah
plang, yang pertama mengenai Cagar Budaya Situs Pesanggrahan Taman Sari dan
yang kedua berupa Bangunan Cagar Budaya Pulau Cemeti Taman Sari. Rupanya
bangunan tinggi yang terlihat dari pasar ngasem adalah Pulau Cemeti.
Disisi bangunan masih bisa dijumpai sisa-sisa reruntuhan bangunan pulau cemeti.
Bangunan tersebut seperti tidak terawat, dindingnya kusam dan berlumut. Atap
bangunannya runtuh karena termakan usia dan menurut sumber yang lain
menyebutkan runtuh karena gempa. Ketika saya tiba ada beberapa pasangan yang
berada di sana menikmati sunyinya bangunan.
Saya berjalan menuju ke arah selatan dan melewati gerbang yang sama seperti
saya masuk ke pulau cemeti hanya bedanya ada beberapa gerbang. Saya menuruni
beberapa anak tangga dan berjalan masuk ke sebuah pintu yang didalamnya
ternyata adalah sebuah terowongan yang menurut sebuah sumber, terowongan ini
dahulunya berada di bawah permukaan air yang menghubungkan pulau
cemeti dengan gapura panggung dan pesanggrahan taman sari
.
Kami pun berjalan menuju gerbang utama yaitu gapura panggung untuk memasuki
pemandian Taman Sari yang biasa disebut umbul binangun. Gapura Panggung yang
berada di sebelah timur bentuknya memukau dengan arsitektur dan ornament asli
jawa dan dihiasi 2 buah patung naga di sisi gerbangnya.
Kami memasuki gapura panggung tersebut dan setelah membeli tiket seharga
Rp.3000 untuk wisawatan domestic, maka kami pun masuk ke dalam taman sari.
Setelah keluar dari gapura panggung sebuah jalan yang dibentuk oleh batuan alam
persegi yang disusun dengan pola teratur menghubungkan gapura panggung dengan
sebuah gerbang menuju umbul binangun. Di tepi jalan tersebut dihiasi beberapa
buah pot yang tinggi dan besar, di dalam pot tersebut tertanam sebuah pohon
berukuran sedang seakan menggiring pengunjung menuju umbul binangun.
Saya pun berjalan menuju umbul
binangun. Gerbangnya berbentuk seperti rumah yang di atas pintu masuknya
dihiasi oleh ornament jawa klasik dengan unsur cinanya. Sebelum memasuki pintu
tersebut lalu saya pun dapat melihat dibawah sana umbul binangun dengan dasar
berwarna biru terlihat mempesona.
Umbul binangun menggoda saya untuk turun dan merasakan kesejukan airnya.
Saya pun berjalan menuruni puluhan anak tangga dan saya terhenti tepat di
bagian bawah anak tangga. Dari situ umbul binangun pun terlihat sempurna dengan
dikelilingi tembok tinggi. Di beberapa bagian kolam terdapat air yang memancar
dari sebuah ornament berbentuk jamur dengan sculpture teratai yang memperindah
umbul binangun. Sedangkan di beberapa titik di sisi kolam terdapat pot bunga
besar yang mempercantik pemandian taman sari.
Di sebelah selatan ada sebuah menara yang bisa melihat umbul
binangun secara keseluruhan. Konon dari menara tersebut sultan
memilih salah satu selir atau istrinya. Dibalik menara tersebut ada
sebuah kolam yang digunakan khusus untuk pemandian sultan dan permaisurinya
saja. Umbul binangun terletak di bagian tengah dan di apit oleh menara dan
sebuah kolam dengan ukuran lebih kecil yang disebut umbul muncar.
Setelah berkeliling di tiga kolam pemandian tersebut, maka saya pun
beranjak menaiki tangga menuju gerbang gapura agung. Setelah menaiki tangga,
sebuah halaman luas menyambut dengan bagian tengah berbentuk persegi delapan
dan tepat di seberang pintu terdapat gapura agung dengan bentuk yang memukau.
Gapura ini berukuran lebih besar dibanding gapura panggung, bentuknya seperti
gunung dengan sisi-sisinya yang berundak dihiasi relief burung dan
bunga-bungaan serta ornament klasik memperanggun rupa gapura.
Di sisi sebelah utara ada sebuah rumah di teras rumah tersebut ada pria
paruh baya yang sedang mengerjakan wayang kulit. Mengukir sebuah kulit yang
sudah berbentuk wayang diatas sebuah talenan berbentuk bundar. Tidak jauh dari
pria tadi, seorang wanita yang berusia sekitar 30an tahun sedang menggoreskan
canting pada sebuah kain. Rupanya wanita tersebut sedang membuat batik tulis
yang berukuran 2x1 meter dan jika dijual bisa berkisar Rp.1,500,000.00.
Prosesnya yang rumit dan motif yang menarik membuat harga batik tulis tidak
murah.
Begitulah catatan perjalanan saya mengunjungi Taman Sari yang merupakan salah
satu bangunan bersejarah di Kota Yogyakarta . Objek di taman sari yang saya
kunjungi sudah memberikan kepuasan tersendiri terhadap rasa keingintahuan saya.
Jadi, untuk kalian yang sedang berniat untuk berwisata ke Yogyakarta, alangkah
baiknya apabila kalian singgah ketempat ini. Oh iya sekedar info saja tempat
ini juga sering di gunakan untuk penggambilan foto prawedding oleh para
pasangan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejumlah artispun pernah
menggunakan tempat ini sebagai tempat shooting film atau video klip seperti
pada video klip Caesar Hirohito dan Felisciya Angelista .
Sember : Indra, Kusuma sejati, di akses pada tanggal 25 November 2016 melalui https://direktori-wisata.com/wisata-di-tamansari-yogyakarta/








Posting Komentar